Hukum Puasa pada 1 Muharram Apakah Boleh? Ini Menurut Ulama dan Dalilnya

Hukum Puasa pada 1 Muharram Apakah Boleh Hukum Puasa pada 1 Muharram Apakah Boleh

Menjelang tahun baru Islam, banyak umat Muslim bertanya-tanya mengenai keabsahan dan hukum melaksanakan puasa sunnah di awal tahun. Bolehkah kita berpuasa tepat pada tanggal 1 Muharram? Apakah ada dalil dan nash sahih yang memerintahkannya?

Sebagai informasi dasar, berdasarkan kalender resmi pemerintah, 1 Muharram 2026 jatuh pada tanggal Selasa, 16 Juni 2026. Untuk meluruskan kesimpangsiuran, berikut adalah penjelasan lengkap dari Jumhur ulama beserta dalilnya.

Hukum Puasa pada Tanggal 1 Muharram

Menurut Jumhur (mayoritas) ulama, hukum melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 1 Muharram adalah boleh dan sah-sah saja. Namun, ada catatan penting yang harus diperhatikan: ibadah ini diperbolehkan selama umat Muslim tidak mengkhususkan hari tersebut dengan keyakinan keliru bahwa tanggal 1 Muharram memiliki ritual puasa wajib atau sunnah khusus yang berdiri sendiri secara syariat.

Puasa di awal tahun ini menjadi sangat dianjurkan jika diniatkan sebagai bagian dari amalan umum untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram. Sebelum mengamalkannya, pastikan Anda sudah memahami bacaan niat puasa akhir dzulhijjah dan awal muharram beserta kedudukan hukumnya.

Dalil Shahih Keutamaan Puasa Muharram

Secara umum, bulan Muharram adalah waktu yang sangat istimewa untuk memperbanyak puasa sunnah. Bahkan, tingkat keutamaannya berada di atas puasa bulan Sya’ban. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam’.” (HR. Muslim)

Penjelasan Para Ulama Besar

1. Imam An-Nawawi

Dalam kitab Al-Minhaj Syarhun Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Imam Nawawi menegaskan bahwa hadis di atas merupakan dalil sharih (penjelasan yang sangat terang) bahwa Muharram adalah bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadan.

Terkait fakta sejarah bahwa Nabi SAW lebih sering berpuasa di bulan Sya’ban, Imam An-Nawawi memberikan dua kemungkinan alasan:

  • Bisa jadi Rasulullah SAW baru diberi tahu oleh Allah mengenai keutamaan Muharram yang melebihi Sya’ban di masa-masa akhir hayat beliau.
  • Bisa jadi Nabi SAW sebenarnya sudah mengetahuinya, tetapi tidak sempat memperbanyak puasa di bulan Muharram karena adanya udzur syar’i, seperti sakit atau sedang dalam perjalanan (safar).

2. Ibnu Hajar al-Haitami

Dalam kitab Al-Fatawal Kubral Fiqhiyyah, Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa tidak ada batasan baku dalam berpuasa di bulan Muharram. Semakin banyak hari yang dipuasai, maka semakin baik pahala yang didapatkan. Umat Muslim dibebaskan untuk berpuasa sehari, dua hari, tiga hari, atau bahkan hampir sepanjang bulan jika fisik dan kondisinya memungkinkan.

Hari-Hari Paling Utama untuk Puasa di Bulan Muharram

Meskipun berpuasa di awal bulan seperti tanggal 1 Muharram diperbolehkan, para ulama menekankan bahwa ada hari-hari yang jauh lebih utama dan memiliki jalur dalil yang sangat kuat di bulan ini, yaitu:

  • 10 Hari Pertama Muharram: Hari-hari awal yang secara umum penuh berkah.
  • Hari Tasu’a (9 Muharram): Dianjurkan untuk mengiringi puasa Asyura.
  • Hari ‘Asyura (10 Muharram): Puasa yang memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu.
  • Tanggal 11 Muharram: Dianjurkan sebagai pelengkap setelah hari Asyura.

Kesimpulan

Berpuasa pada tanggal 1 Muharram hukumnya mubah (boleh) dan berpahala jika didasari niat untuk mengamalkan keutamaan umum bulan Muharram, bukan karena mengkultuskan hari pertama itu sendiri. Pintu amalan di bulan ini terbuka sangat lebar, sehingga umat Muslim dapat memanfaatkannya untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya sejak awal tahun Hijriah dimulai.